www.cimbniaga.co.id production
ID EN

28 Oktober 2026

Market Review

Turunnya minat investor terhadap lelang obligasi pemerintah bertepatan dengan melemahnya pasar saham Indonesia dan nilai tukar rupiah. Jumlah permintaan masuk pada lelang obligasi konvensional pemerintah kemarin hanya sebesar IDR 31 triliun, paling rendah dalam dua tahun terakhir. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah ke 5.266 dan kurs USD/IDR ditutup pada posisi 18.139.

 

Perkembangan yang negatif di pasar keuangan Indonesia ini menyertai kenaikan harga minyak Brent yang mendekati USD 120/barel dan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada malam ini. Selisih harga minyak dunia dan harga bahan bakar di dalam negeri yang semakin besar merupakan indikasi dari kenaikan belanja subsidi pemerintah. Selanjutnya, The Fed mungkin akan kembali menaikkan suku bunga acuannya untuk mengendalikan inflasi tinggi di Amerika Serikat. Kebutuhan belanja subsidi pemerintah Indonesia dapat disertai dengan penambahan utang dalam jumlah yang signifikan di saat suku bunga global cenderung meningkat.

 

Potensi penambahan utang baru pemerintah Indonesia ini belum termasuk utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Utang pemerintah dan Bank Indonesia yang akan jatuh tempo mencapai sekitar IDR 500 triliun di sisa tahun 2026 dan 1.800 triliun di tahun 2027. Kondisi ini disertai dengan meningkatnya premi asuransi utang luar negeri Indonesia (Credit Default Swap) ke level paling tinggi sejak April 2024.

 

Rentang perdagangan USD/IDR pada hari ini diperkirakan antara 17.900 – 18.300. Pada hari Selasa kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) berada pada 18.139.

 

Pasar Obligasi Negara Indonesia – Indikasi yield pada penutupan di hari Selasa adalah 6,73% (1Y), 7,17% (3Y), 7,44% (5Y), 7,55% (10Y), dan 7,58% (20Y). Kemarin, yield naik rata-rata 10 bps di sepanjang kurva, dengan kenaikan lebih besar pada tenor 7, 15, dan 20 tahun.

 

Pemerintah menerbitkan obligasi konvensional senilai IDR 20,6 triliun dari total permintaan yang masuk sebesar IDR 31,1 triliun. Yield rata-rata tertimbang hasil lelang adalah 6,23%, 6,66%, 7,38%, 7,55%, 7,50%, 7,55%, 7,53%, dan 7,50%, masing-masing untuk SPN Nov’26 dan Okt’27, FR110 (2032), FR111 (2037), FR112 (2042), FR107 (2045), FR102 (2054), dan FR105 (2064). Di sisi lain, SPN Jan’27 tidak diterbitkan.

 

Arus dana asing di pasar modal Indonesia turun tipis berdasarkan data terakhir. Indeks saham IHSG ditutup turun 107 poin pada posisi 5.266, pada tanggal 27 Oktober 2026, dan kepemilikan asing pada pasar saham Indonesia tercatat turun IDR 651 miliar. Di sisi lain, kepemilikan asing pada obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan turun IDR 550 miliar pada tanggal 26 Oktober 2026. 

 

Baca lebih lanjut, klik disini